SONATA.id – Pada kegiatan Batagak Gala dan Pati Ambalau Nagari Rambatan, Sabtu (25/7/2026) lalu yang digelar di Jorong Panti, 12 orang Datuk dikukuhkan.
Prosesi adat yang juga diikuti oleh elemen Bundo Kanduang itu, menjadi ruang edukasi bagi generasi muda Minangkabau dalam memahami peradatan dan budaya asli Ranah Minang.
Berbincang dengan media ini, Bundo Kanduang Suku Sumagek Batu Diateh, Nelfi Sonata, S.Pd, mengatakan, prosesi-prosesi adat seperti yang baru saja dilakukan, dalam rangka menjaga kemurnian adat dan memastikan nilai-nilai budaya tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Melalui kegiatan Batagak Gala dan Pati Ambalau ini, tentunya akan terlihat, prosesi adat tetap berjalan di Minangkabau, dan generasi muda kita akan terbiasa dengan budayanya sendiri,” demikian ujar Nelfi Sonata yang juga seorang pendidik itu.
Terkait dengan posisinya sebagai Bundo Kanduang dalam sukunya, Nelfi mengatakan, keberadaan Bundo Kanduang merupakan bagian dari konsepsi adat di Minangkabau.
“Bundo Kanduang dikenal sebagai ‘Limpapeh Rumah Nan Gadang’, yaitu tiang penyangga utama rumah gadang yang melambangkan kehormatan, kebijaksanaan, dan keteguhan perempuan dalam menjaga keberlangsungan adat dan kaum,” sebutnya.
Dengan posisi itu, peran Bundo Kanduang menjadi sangat besar. Nelfi mengatakan, peran Bundo Kanduang tidak lain adalah sebagai pendidik generasi dalam adat.
“Bundo kanduang di Minangkabau harus mampu menjadi contoh dalam menjaga etika, martabat keluarga, serta kehormatan kaum sehingga menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Diketahui, acara Batagak Gala dan Pati Ambalau tersebut, berlangsung selama dua hari (25-26 Juli). Prosesi adat itu mengusung tema 'Mampaarek Nan Lungga, Mangumpuan Nan Taserak'.
Sebanyak 12 panghulu yang berasal dari lima suku yaitu Mandaliko Tabek Patah, Mandaliko Tabek Budua, Mandaliko Batu Larangan, Mandaliko Tabek Gadang, dan Sumagek Batu Diateh, mengikuti pawai dan arak arakan di Jorong Panti tersebut.
Panghulu yang dilewakan sebagai Datuak di antaranya, Adi Putra Dt. Rajo Dubalang, Jonnes Dt. Palang Kayo, Kapten Kav. (Purn) Syamsinir Dt. Alang Gumanti, dan Yusbar Dt. Gindo Kayo, Muhammad Salim Dt. Panghulu Sutan.
Selain itu, ikut dilewakan gelar penghulu Getrizal Dt. Pandeka Sutan, Dafrizal Dt. Monti Basa, Harry Aldi Dt. Gindo Malano, Edi Masrizon Dt. Rangkayo Batuah, Zulfendri Dt. Jonang Sati, dan Peni Arli Dt. Malin Panghulu, serta Ali Ambran Dt. Malin Kayo.(NT)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar