Wamen Fajar Ingatkan Guru terkait Kecerdasan Artifisial - Sonata | Moving for Education

Breaking

Post Top Ad


Post Top Ad


Selasa, 03 Februari 2026

Wamen Fajar Ingatkan Guru terkait Kecerdasan Artifisial


SONATA
.id
  Di era kecerdasan artifisial (AI) saat ini, guru dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat kompetensi SDM Indonesia masa depan.

 

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, di di hadapan para lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta menegaskan, perkembangan AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman. AI adalah peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan peran pendidik dalam membentuk karakter generasi bangsa.

 

Sebagai refleksi, perkembangan teknologi global menunjukkan lebih dari 78 persen organisasi dunia telah memanfaatkan AI, dan otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja global. Perubahan ini berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan.

 

Dalam konteks tersebut, AI tidak menggantikan guru melainkan berfungsi sebagai asisten dalam proses pembelajaran.

 

Fajar lalu mencontohkan, keberadaan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai wujud pemanfaatan teknologi yang memberikan pengalaman belajar murid secara bermakna dan menggembirakan. 

 

AI  dapat membantu personalisasi belajar, analitik pembelajaran, serta efisiensi kerja guru. Namun, nilai keteladanan, empati, kebijaksanaan, dan pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

 

“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” tutur Wamen Fajar ujarnya dalam acara Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, baru-baru ini. 

 

Menurut Fajar, pemanfaatan AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain melalui pembelajaran yang lebih inklusif, personalisasi materi sesuai kebutuhan murid, serta inovasi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan tantangan nyata. Namun demikian, peluang tersebut hanya akan bermakna apabila guru memiliki literasi digital yang kritis dan kapasitas pedagogik yang kuat.

 

Menyoroti tantangan etis penggunaan AI dalam pendidikan, Fajar menyampaikan, peningkatan kompetensi guru menjadi kunci untuk memastikan pemanfaatan KA yang bijak, kritis, dan bermartabat.(SP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad