Peringatan HPN 2026, Mengenang Para Guru Jurnalistik - Sonata | Moving for Education

Breaking

Post Top Ad


Post Top Ad


Senin, 09 Februari 2026

Peringatan HPN 2026, Mengenang Para Guru Jurnalistik


SONATA
.id
– Hari Pers Nasional (HPN), menjadi peringatan yang sangat berarti bagi insan pers di tanah air. Bukan hanya sebuah kebanggaan, namun juga menjadi bukti lompatan ruang ke ruang, waktu ke waktu, untuk sebuah profesi yang mulia. Menjadi corong informasi melalui profesi jurnalis, untuk pengetahuan dan wawasan masyarakat.

 

Sebagai seorang yang mendalami ilmu jurnalistik sejak masih belia, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Baru saja kemarin mendapatkan didikan dari para senior, baik secara formal maupun informal, dunia jurnalistik ini telah mengakar dalam diri.

 

Puluhan tahun lalu, pelajaran-pelajaran kejurnalistikan dan kepenulisan menjadi asupan sehari-hari. Para senior, dosen jurnalistik, menjadi tempat menimba ilmu untuk lebih terampil dalam menulis berita dengan mengedepankan tujuan mulia; memberi pengetahuan, informasi yang benar, mendidik dan menambah wawasan masyarakat.

 

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah hingga menjalani perkuliahan untuk jenjang Strata 1, pelajaran-pelajaran kejurnalistikan bagi penulis adalah sesuatu yang sangat menarik. Setiap hari, ditemani seorang senior bernama Musriadi, yang ketika itu menjalani kesehariannya sebagai Wartawan Harian Umum Singgalang, sebuah media besar di Sumatra Barat, penulis diberikan ruang untuk terus belajar.

 

Musriadi adalah figur yang telaten dalam ilmu kejurnalistikan. Setiap huruf dan susunan kata, menjadi bagian penting dalam proses editingnya. Tidak sembarangan. Walaupun ketika berita itu dikirimkan ke redaksi, ada editor yang akan kembali memeriksa, ia pun tidak ingin tulisannya mentah begitu saja.

 

Pemahaman demi pemahaman dalam belajar jurnalistik dari senior sekaligus sahabat itu, penulis jalani dengan kesungguhan. Hingga tiba saatnya untuk menimba pengetahuan secara formal di bidang tersebut.

 

Tidak berhenti di situ saja. Setelah melalui tahapan formal, di lapangan pun penulis berupaya mendapatkan pengetahuan praktis melalui tokoh-tokoh dan pelaku jurnalistik. Para wartawan senior ketika itu penulis datangi, dengan satu tujuan; semakin matang dalam menulis berita, semakin terampil dalam mengemas tulisan yang enak dibaca sekaligus kaya informasi.

 

Ketika itu, seorang wartawan senior, bersama Nazaruddin mengenalkan penulis pada pemahaman; menjadi seorang jurnalis harus tunduk pada kode etik. “Jadilah wartawan yang mampu mendidik masyarakat, jangan tergiur dengan segala bentuk penyimpangan perilaku hanya karena segepok rupiah,” begitu sebutnya saat memberikan wejangan.

 

Musriadi dan Nazaruddin, bagi penulis adalah dua orang guru. Dua sosok yang menjadi acuan bagi penulis dalam melalui tahapan-tahapan sebagai seorang jurnalis. Ketika menulis berita, tajuk, esai dan lainnya, sosok kedua orang itu tetap melekat.

 

Kenapa begitu kuat pengaruh guru-guru itu dalam keseharian profesi yang penulis lalui? Semua orang akan memahami, perilaku baik dan buruk akan turun kepada orang yang mempelajarinya. Dan, alhamdulillah, kedua sosok itu adalah jurnalis senior yang memiliki perilaku profesi yang terpuji. Dan itu tetap penulis pegang hingga kini.

 

Sayangnya, kedua figur itu telah kembali menghadap Ilahi sebelum sempat membalasnya dengan segala ketundukan. Mereka berpulang dengan segenap kebaikan yang pernah ditinggalkan dalam diri penulis. Allahummaghfir lahum, warhamhum, wa 'afihi, wa'fu 'anhum. Semoga keduanya ditempatkan pada tempat terbaik di sisi Allah Yang Maha Penyayang.

 

Dan pada peringatan HPN tahun ini, semua konsistensi yang pernah penulis dapatkan dari keduanya, serta dari para dosen secara formal, tetap akan dipegang teguh. Dunia jurnalistik adalah dunia yang indah sekaligus menantang. Dunia yang memiliki tujuan mulia, demi kemaslahatan umat dan bangsa.

 

Semoga di peringatan ini doa-doa terbaik untuk mereka yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada dunia jurnalistik secara umum, mendapatkan kebaikan dan menjadi amal ibadah di sisi Tuhan.

 

Mari kita pahami, dunia pers adalah ruang mulia untuk mencerdaskan bangsa, menjaga kedaulatan negara. Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. (*)

Penulis: Nova Indra (Pemimpin Redaksi Warta Pendidikan/Editor in Chief Jurnal Ilmiah Warta Pendidikan)

Tulisan ini sebelumnya telah terbit di media Warta Pendidikan dengan judul: "HPN 2026, Ruang Kontemplasi Bagi Pelaku Pers"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad