Satu Abad Gempa 1926: Mengingat Tragedi, Membangun Ketangguhan Generasi - Sonata | Moving for Education

Breaking

Post Top Ad


Post Top Ad


Senin, 15 Juni 2026

Satu Abad Gempa 1926: Mengingat Tragedi, Membangun Ketangguhan Generasi


SONATA.id – Tahun 2026, menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Sumatra Barat. Tepat satu abad yang lalu, pada 28 Juni 1926, terjadi salah satu gempa bumi paling merusak dalam sejarah Minangkabau.

 

Gempa yang dikenal sebagai Gempa Padang Panjang 1926 itu meninggalkan luka mendalam, menghancurkan ribuan bangunan, menewaskan ratusan orang, dan mengubah wajah wilayah Padang Panjang, Batipuh, Singkarak, serta daerah lainnya di Tanah Datar dan sejumlah wilayah Sumatra Barat.

 

Peringatan 100 tahun peristiwa tersebut, bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masyarakat Sumatera Barat hingga hari ini masih hidup berdampingan dengan ancaman gempa bumi yang berasal dari Sesar Besar Sumatra (Great Sumatran Fault), khususnya Segmen Sianok dan Segmen Sumani yang melintasi wilayah pegunungan Bukit Barisan.

 

Tragedi 28 Juni 1926

Berdasarkan catatan sejarah dan kajian seismologi modern, gempa utama terjadi pada 28 Juni 1926 dan dipicu oleh aktivitas Sesar Besar Sumatra. Peristiwa tersebut bahkan terjadi dalam bentuk "doubleearthquake", yakni dua gempa kuat yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari tiga jam.

 

Kajian modern memperkirakan, magnitudo gempa berkisar antara M6,7 hingga M7,6 dengan intensitas guncangan mencapai tingkat sangat merusak di wilayah Padang Panjang, Tanah Datar dan sekitarnya.

 

Menurut catatan BMKG yang disampaikan oleh pakar gempa Indonesia, Daryono, gempa tersebut menewaskan sedikitnya 354 orang. Di Kota Padang Panjang dan sekitar wilayah Tanah Datar, tercatat sekitar 2.383 rumah roboh dan 247 orang meninggal dunia. Di Kabupaten Agam, 472 rumah runtuh dengan 57 korban meninggal dunia. Gempa juga memicu berbagai bencana ikutan seperti longsor dan fenomena seiche (gelombang berdiri) di Danau Singkarak akibat guncangan yang sangat kuat.

 

Sejumlah penelitian sejarah bahkan menunjukkan jumlah korban kemungkinan mendekati atau melebihi 500 jiwa karena keterbatasan pendataan pada masa kolonial Belanda.

 

Jalur Sunyi yang Masih Aktif: Great Sumatran Fault

 

Gempa 1926 merupakan bukti nyata aktivitas Great Sumatran Fault, salah satu sistem sesar geser aktif terpanjang di dunia yang membentang sekitar 1.900 kilometer dari Aceh hingga Lampung. Sesar ini terbentuk akibat interaksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia (Sunda).

 

Wilayah Sumatera Barat berada tepat di atas beberapa segmen aktif patahan tersebut, antara lain Segmen Sianok, Sumani, Suliti dan Segmen Angkola. Keberadaan sesar aktif ini menyebabkan wilayah seperti Padang Panjang, Bukittinggi, Agam, Tanah Datar, Solok, dan sekitarnya memiliki risiko gempa kerak dangkal yang tinggi. Gempa jenis ini biasanya terjadi dekat permukaan sehingga mampu menghasilkan guncangan yang sangat merusak meskipun magnitudonya tidak sebesar gempa megathrust di laut.

 

Pelajaran dari Kajian Akademik

Penelitian berjudul The Earthquake of 1926 in Padang Panjang, West Sumatra yang ditulis oleh Yenny Narny, Robert Cribb, dan rekan-rekannya menegaskan, gempa 1926 merupakan salah satu bencana paling signifikan dalam sejarah kolonial Sumatera Barat.

 

Penelitian tersebut mengungkap bagaimana masyarakat mengalami kekacauan sosial, kerusakan ekonomi, serta proses pemulihan yang panjang pascabencana.

 

Sementara itu, penelitian Imratul Sa'diah dan Doni Nofra dalam jurnal Majalah Ilmiah Tabuah menunjukkan, naskah-naskah lokal Minangkabau menyimpan catatan penting mengenai gempa 1926.

 

Naskah tersebut tidak hanya merekam jumlah korban dan kerusakan, tetapi juga menggambarkan bagaimana masyarakat memaknai bencana serta upaya bertahan hidup setelah kejadian tersebut. Kajian-kajian ini menunjukkan, memori kolektif tentang bencana merupakan bagian penting dari budaya mitigasi yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

 

Mengapa Mitigasi Bencana Menjadi Sangat Penting?

Seratus tahun setelah tragedi itu, ancaman gempa bumi di Sumatera Barat tidak berkurang. Yang berubah hanyalah jumlah penduduk, kepadatan bangunan, dan kompleksitas infrastruktur yang semakin besar.

 

Menurut konsep yang dikembangkan oleh Allan Lavell dan berbagai lembaga internasional kebencanaan, bencana terjadi bukan hanya karena adanya ancaman alam (hazard), tetapi karena tingginya kerentanan masyarakat terhadap ancaman tersebut.

 

Oleh sebab itu, mitigasi menjadi kebutuhan mutlak melalui: Pertama, Pendidikan Kebencanaan Sejak Dini. Anak-anak perlu memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi. Kedua, Penguatan Sekolah Siaga Bencana. Sekolah harus memiliki jalur evakuasi, simulasi rutin, dan rencana kontinjensi yang jelas.

 

Ketiga, Masjid sebagai Pusat Edukasi Mitigasi. Masjid dapat menjadi pusat informasi, edukasi, dan koordinasi masyarakat saat terjadi bencana. Keempat, Pembentukan RT atau Jorong Siaga Bencana. Lingkungan terkecil masyarakat harus memiliki kemampuan respons awal sebelum bantuan datang.

 

Selain itu, yang tak kalah penting adalah Pembangunan Infrastruktur Tahan Gempa. Bangunan publik, sekolah, rumah ibadah, dan rumah warga harus memperhatikan standar konstruksi tahan gempa.

 

Sementara itu, Pelestarian Memori Bencana juga menjadi hal penting yang harus dilakukan sebagai media pembelajaran bagi setiap generasi. Sejarah gempa 1926 perlu diajarkan kepada generasi muda agar pengalaman pahit masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi masa depan.

 

Momentum Satu Abad: Dari Peringatan Menuju Ketangguhan

Peringatan satu abad Gempa Padang Panjang 1926, seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum ini dapat menjadi titik balik untuk membangun budaya sadar bencana di Sumatra Barat.

 

Sebagaimana dikatakan oleh para ahli kebencanaan, masyarakat yang paling selamat bukanlah masyarakat yang bebas dari ancaman, melainkan masyarakat yang memahami ancaman dan siap menghadapinya.

 

Bagi Sumatra Barat, peringatan 100 tahun Gempa 1926 adalah kesempatan untuk meneguhkan komitmen; tragedi besar masa lalu harus menjadi sumber pembelajaran, bukan sekadar kenangan.

 

Dengan memperkuat literasi kebencanaan, meningkatkan kesiapsiagaan, dan membangun kesadaran kolektif, masyarakat dapat hidup lebih harmonis di jantung jalur aktif Sesar Besar Sumatra. (*)

Penulis: Pimpinan lembaga Alpha Rescue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad