MALAM penggalangan dana bencana gempa bumi bukanlah malam biasa bagi ku. Di malam itu aku mengenalmu, ketika kamu menghampiri aku.
“Abian” katamu sambil menyodorkan tangan. Kamu tersenyum, “manis” aku bergumam mengagumi indahnya ciptaan Tuhan yang ada di hadapan ku.
“Nama kamu manis?” Aku tertegun dengan tingkah bodoh yang kulakukan.
“Bukan, nama ku Diandra...” Kita lalu bercerita, bercanda dan tertawa lepas, hingga malam makin larut, hingga kamu harus kembali.
Tinggallah aku dengan rekan-rekan panitia lainnya. Di tanganku sudah menunjukkan pukul 01.00. Ternyata hari dan tanggal sudah berganti. Lelah membuatku menghempaskan badan di sofa yang ada di ruang PKM.
“Diandra, kamu mau tidur di sini...?” Sapa suara yang dari tadi tidak bisa terlupa dari ingatan.
Aku menoleh dan hanya bisa mengangguk karena suara ini seakan tertelan melihat senyum dan matamu.
“Bian... kamu kok balik?” Kamu tersenyum dan langsung merapatkan diri duduk di sampingku.
Malam kian larut, mata yang tadi ingin menutup dan masuk ke alam mimpi, kini berganti dengan air mata yang tak seharusnya jatuh karena tawa yang tak tertahankan. Kamu ternyata seorang teman yang sangat menyenangkan dan menghibur. Seakan malam ini tak kan kubiarkan berlalu, karena ini terlalu indah untuk dilupakan.
Kokok ayam mulai menggema beriring dengan cahaya yang memancar indah di ufuk timur, mata pun tidak lah sama dengan matahari yang mulai tersenyum.
“Bi... aku pulang dulu ya, aku benar-benar mengantuk.” Kamu hanya bisa mengangguk sambil memegang tanganku.
Ketika aku mulai mengemasi barang-barangku, “Dian... jangan lupa kabari aku sesampai di kosan, maaf aku tidak bisa ngantar kamu.”
Dengan langkah gontai kuberjalan meneluri pinggir kampus yang masih sangat sepi, karena jam di tangan masih menunjukkan 05.46. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dan tidak mampu untuk mengartikannya.
Sepanjang jalan menuju kos film yang ada di fikiranku seakan kembali memutar semua skenario yang kulalui bersamamu malam ini.
Ku buka pintu dan seakan mendapatkan hadiah yang begitu besar saat aku melihat ke arah kasur dan bantal Doraemon. Tanpa basa basi, kuhempaskan tubuh lelah namun bahagia ini di kasur yang mungkin akan berteriak karena menahan tubuhku yang tidak begitu besar.
Aku liat jam dinding digital dengan begitu aneh. Apakah ada yang memutar jam dindingku atau jam ini sudah kehabisan nyawanya. Kukucek mata yang masih sangat ingin untuk kembali menutup, aku lihat kembali dengan jelas jam itu menampilkan 16.25. Kubuka jendela kamar yang mengarah ke laut lepas, ternyata langit pun ingin berkata ini sudah sore, Diandra.
Kuraih HP, dan lebih membingungkan lagi 27 panggilan tak terjawab 10 pesan WA yang mencantukan nama ABIAN.
Ku pencet tombol dengan lambang telepon pada aplikasi WA-ku, tanpa menunggu panggilan itu pun tersambung.
“Diandra.. kamu nggak papa kan? kamu sekarang di mana? dari tadi aku hubungi kamu, aku khawatir Di….” Aku bingung dengan semua runtutan pertanyaan itu, kamu siapa, apa artinya aku buat kamu?
****
Hari-hari berlalu dengan segudang aktiVitas kuliah dan kesibukanku di organisasi Mahasiswa. Semuanya biasa tanpa ada yang berkurang.
Namun semenjak malam penggalangan dana itu, kamulah yang memberikan warna di hari-hariku Abian. Semua perhatian dan waktu-waktu yang kamu habisakan untuk menemaniku. Ketika aku harus menangis memikirkan masalah-masalah yang aku hadapi dengan orang tuaku. Kamu lah yang selalu jadi obatku, kamu bisa membuat aku tenang dan kamu pelindungku.
“Bi… aku butuh kamu. Kamu punya waktu nggak buat dengarin cerita aku.” Ku kirim pesan itu tepat pukul 19.45. Tidak ada balasan pesan dari kamu 10 menit berlalu. Hingga aku tertidur dengan cerita yang akan aku sampaikan padamu malam ini.
****
Pagi ini kelas Filsafat membuat aku harus bangun dengan fikirkan yang sangat lelah. Kubuka buku agendaku, banyak angka 1 sampai seterusnya. Ingin kurobek jadwalku hari ini dan kembali tidur agar masalah-masalah tidak lagi bisa menemani waktu-waktuku. Dengan langkah yang sedikit diseret, aku menuju kampus dan dengan terpaksa memasuki ruang kelas filsafat.
Jam menunjukkan 11.30. Aku pergi ke ruangan PKM dan berharap menemui kamu, Bi. Ternyata harapanku terlalu tinggi, aku seperti pungguk merindukan bulan. Kamu hilang Bian, seakan digulung ombak dan terdampar di pantai entah berantah.
Satu Minggu berlalu, kamu benar-benar di telan ombak, Bian. Kasur ini sudah ingin teriak karena aku selalu menindihnya tanpa ingin bergeser dan memberikan ruang untuk benafas. Fikiranku tak terlepas dari kamu, Bian.
Ku pandangi layar HP, berharap akan nada panggilan dari kamu ataupun pesan mengajakku ke tempat biasa kita bercerita, menghabisakan malam dengan segelas kopi yang manis saat kamu selalu di sampingku.
Kita memang hanya teman, walaupun aku memiliki rasa yang berbeda. Aku tidak mau menyampaikan apa yang kurasakan karena rasa takut kehilanganmu jauh lebih besar.
“Assalamualaikum Diandra, ini aku Reza. Apakah kamu ada waktu? Aku sekarang sedang berada di sini.”
Bunyi pesan yang berdenting, kuraih HP dengan kecepatan yang mengalahkan kecepatan cahaya. Ternyata ini adalah orang yang spesial bagiku sebelum kamu, Bian. Dia orang yang aku cinta sepenuh hatiku, namun kami harus berpisahkan karena jarak. Aku bukanlah wanita yang terlalu mudah percaya, dengan ini aku memutuskan untuk berpisah dengan Reza.
Pertemuanku dengan Reza kembali membuka cerita lama yang ternyata belum selesai. Kenangan indah tanpa celah kembali menghiasi senyum di bibirku setalah kamu menghilang. Kabar terindah adalah ketika Reza menyampaikan akan kembali ke kota ini, untuk melanjutkan kariernya di sini. Ketika langit hitam dengan taburan bintang berkilau Reza memberikan kata pasti untukku.
“Diandra maukah kamu jadi pendamping hidupku?” Ketika pertanyaan itu dilontarkan, entah kenapa bayangan Bian muncul dengan senyum tipis di hari perkenalan kami. Kukuatkan hati, kupandangi wajah yang ada di hadapanku. Dan kupastikan ini bukan kamu, Abian. Dengan anggukan pelan ku jawab pertanyaan Reza.
Cincin itu mulai memasuki jari manisku. “Reza, tapi aku belum menyelesaikan kuliahku.”
Dengan senyum yang sedikit mengeluarkan suara, namun berbeda dari senyummu, Abian.
“Di… kamu tenang saja, kita tidak akan menikah dalam waktu dekat, kamu selesaikan dulu kuliahmu dan nanti kita akan bicarakan soal pernikahan dengan keluarga.”
Tiga bulan berlalu setelah aku menerima lamaran Reza. Aku berjalan gontai dari kampus, tiba-tiba mobil yang tak kukenal berhenti tepat di hadapanku. Dengan sangat patuh aku masuk tanpa reaksi yang selayaknya orang yang dipaksa untuk masuk ke dalam mobil.
“Abian ini kamu?” Rasanya seperti tidak percaya pada kenyataan yang kuhadap hari ini. Aku bertemu kembali denganmu, Abian.
Hari ini kamu menculik dan membawaku ke tempat yang sangat indah. Malam mulai larut, kamu hanya diam dan menatap langit tanpa ada satu kata yang keluar dari mulutmu. Bian apa yang akan kamu lakukan, untuk apa kita di sini kalau takkan ada kata untuk menjelaskan.
“Di… maafkan aku....” Kamu mulai buka suara, panjang cerita yang kamu sampaikan dan semua itu benar-benar membuatku harus sadar karena kamu sangat baik. Pengorbanan yang kamu lakukan demi keluarga bahkan menghancurkan masa depanmu diri. Pernikahan yang harus kamu jalankan demi melindungi perilaku bejat kakakmu.
“Diandra…dari awal pertemuan kita aku sudah jatuh cinta dan sampai sekarang aku sangat menyayangimu.” Kata-kata itu meluncur dari bibirmu.
Perkataanmu benar-benar membuat langit ini menjadi lebih indah, dan kurasakan duniaku kembali bernyanyi. Namun semuanya harus selesai sampai di sini. Rasa cinta yang bertopengkan pertemanan, harus selesai dengan perjalanannya masing-masing. Perpisahan ini tak lagi bisa kita tunda.
“Diandra, walaupun suatu saat kita tidak akan pernah bertemu dan berbicara lagi, aku mohon tetaplah mengenang perjalanan kita. Dan satu hal, kamu tak boleh melupakan kalau aku Abian sangat menyayangi dan mencintaimu.”
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir darimu, Abian. Dan langit malam kembali gelap. Tapi satu hal yang aku tahu, kamu pun mencintaiku. Terima kasih Abian kamu akan tetap menjadi episode drama hidup Diandra yang spesial.(*)
Penulis: Fitri Handayani - @fitri_handayani_demora
Bionarasi:
Fitri Handayani nama yang disematkan oleh orang tua pada tanggal 27 Mei 1987. Waktu itu daerah yang dipilih tempat melahirkan aku adalah Jambi, walaupun hanya menumpang lahir. Karena aku dibesarkan di Kota Dingin nya Sumatera Barat yaitu Padang Panjang. Aku selalu mencoba menjadikan menulis adalah hobiku.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar